Pemburu

Buat penggemar matahari, malam selalu menakutkan. Karena hanya pada malam, semua khayalan tentang iblis dan hantu memiliki tempatnya. Malam entah kenapa selalu memecahkan rongga-rongga dada dan membuat denyut jantung lebih cepat.

Terkadang gemerisik angin terlembut pun entah kenapa tetap membuat helaan napas menjadi lebih berat. Malam adalah waktu di mana hanya boleh dimiliki oleh orang-orang yang menahbiskan dirinya pada kekuatan hati. Benar hanya orang yang berhati kuat yang akan berani menghadapi malam. Seperti para pemberani di desaku. Suatu tempat amat elok di kaki gunung Jaganmantri. Gunung yang kontur tanahnya menyerupai payudara ranum ibu yang baru melahirkan itu benar-benar sangat cantik. Ibu semesta begitu setiap kali ada orang yang bertanya tentang arti Jaganmantri.

Desaku sangat indah luar biasa. Setiap pagi saat matahari pertama kali menyetubuhi bumi, genting-genting rumah berkilauan bersahut-sahutan dan dari kilau itu bermunculan warna-warni seperti pelangi yang menyilaukan memantul ke angkasa. Seperti selendang para bidadari bertebaran di langit yang begitu tampak selalu tertawa. Seluruh negeri ini tahu bahwa pantulan kilau dari genting itu adalah air mata yang membeku sehingga bisa dibentuk apa saja. Benar semua benda di desaku terbuat dari kristal-kristal airmata yang membeku. Mulai dari jalan desa, rumah-rumah, bahkan beberapa baju yang dipakai penduduk tebuat dari pintalan warna-warni kristal airmata.

Tidak ada satu orang pun tahu siapa yang pertama kali membuat adonan airmata sehingga bisa dibentuk menjadi apa saja itu. Desaku menjadi desa terindah di seluruh negeri dan airmata adalah hal yang sangat biasa ditemukan di sini. Penduduk desaku hidup dari airmata. Apapun yang kami lakukan selalu diiringi airmata. Bahkan ketika di saat-saat bahagia sekalipun, saat bersenang-senang, airmata selalu harus hadir di sana. Kami tidak mengenal airmata kesedihan ataupun kebahagiaan. Kami hanya mengenal airmata adalah napas. Seperti detak jantung yang berdentam setiap detik, airmata di desa ini pun adalah hidup mereka. Di sini diyakini orang yang semakin mengeluarkan airmata adalah orang yang benar-benar bahagia. Tak heran salah satu seniman nomor satu di desa ini mampu membuat satu komposisi dari lolongan tangis dan tawa sekaligus.

Konon komposisi ini pernah ditawar salah satu produsen besar dari ibukota, tapi seniman itu tak melepaskan karena si produser ternyata tidak bisa mengeluarkan airmata. Ke mana pun penduduk desa ini pergi mereka tampak selalu membawa tas berisi botol besar air mineral kosong dan spons. Karena ketika airmata merekan mengucur deras, segera disapunya dengan spons dan diperas hati-hati ke dalam botol air mineral tersebut. Sangat lazim telihat orang-orang membawa lebih dari satu botol. Airmata dari botol-botol tersebut terus dikumpulkan ke dalam sebuah koperasi unit desa untuk kemudian diolah menjadi potongan 2 baluk kristal airmata sebagai bahan dasar apa pun benda di desa itu. Potongan-potongan kristal itu terus diolah menjadi berbagai macam kebutuhan.

Begitulah desaku begitu damai dan nyaman penuh keberlimpahan dengan airmata. Airmata yang menjadi hidup dan juga bahagia. Orang-orang sederhana dengan airmata bercucuran ternyata membuat hati orang-orang di desaku menjadi orang-orang kuat luar biasa. Orang-orang yang pemberani. Bahkan malam dengan kepekatan akan duka sekalipun tak mampu membuat mereka menghindar dari gulita. Setiap menjelang senja, saat roh-roh tua mulai ingin mengembara, para lelaki di desaku segera keluar menghadap ke barat. Dengan penuh cinta dibungkukkan badan mereka dalam sikap berdoa. Mereka tidak menganggap matahari itu Tuhan, tetapi mereka percaya saat matahari mulai membakar kaki langit dengan ujung-ujung lidah apinya sehingga langit berubah kemerahan, saat itu pula seluruh alam raya ini menangis sejadi-jadinya. Nah, karena tangisan alam raya inilah maka mereka membungkuk menghormatinya karena mereka merasa bahkan alam raya turut merestui tangisan-tangisan yang mereka haturkan sebagai puja. Sungguh jika malaikat kesayangan Tuhan sekalipun pasti akan selalu merasa senang tinggal di desa itu. Desa yang penuh air mata, tetapi begitu bahagia luar biasa ini. Hingga suatu hari ada yang merubah segalanya.

Awalnya terjadi dari kedatangan salah satu warga yang sudah lama merantau. Entah karena sudah lama merantau hingga lupa bagaimana caranya mengeluarkan air mata atau memang dia tidak mau lagi mengeluarkan air matanya. Tentu saja pada awalnya para penduduk terheran-heran bagaimana bisa lelaki itu tidak lagi mengeluarkan air mata. Ketika ditanya mengapa dia tidak mengeluarkan air mata oleh kepala desa yang diyakini sangat sakti karena mampu mengeluarkan air mata seputih susu sungai-sungai sorga itu, jawabannya sungguh mengglegarkan “Airmata hanya untuk para perempuan. Lelaki tidak menangis. Karena hanya lelaki pengecut saja yang menangis.” Sungguh, kalimat itu seperti angin puting beliung yang merontokkan semua peradaban dalam satu helaan napas. Semua lelaki yang mendengarnya langsung tanpa sadar menghentikan air matanya. Sejak saat itu, terjadilah proses penghentian besar-besaran air mata oleh para lelaki di desa itu. Wajah-wajah lelaki di desa itu yang tadinya begitu ringan dan penuh dengan harapan, tiba-tiba menjadi tegang dan tampak sekali ada desakan-desakan air yang mati-matian ditahan di dalam sekat-sekat dadanya. Benar, lelaki tidak menangis. Begitu jargon baru yang terjadi didesa itu dan itu fatal.

Sejak saat itu pula para lelaki menempatkan dirinya lebih tinggi daripada para perempuan di desa itu. Lelaki-lelaki yang tadinya mau membantu para perempuannya memasak, menjahit dan mengurus anak tiba-tiba menjadikan diri mereka tuan. Air mata hanya milik kaum perempuan. Karena hal ini, maka sejak hari lelaki berhenti menangis, tidak ada lagi lelaki yang membawa botol mineral kemana-mana. Koperasi pengolah air mata mulai kesulitan pasokan karena hanya kaum perempuanlah yang menyetor air mata. Tentu saja pasokan itu tidak akan cukup mensuplai kebutuhan. Terlebih kompisisi mineral air mata lelaki dan perempuan berbeda. Balok-balok kristal air mata menjadi menurun kualitasnya. Orang akhirnya mencampurnya dengan air untuk memproduksi apa saja. Tentu saja ini sama sekali menghancurkan. Setiap pagi pelangi-pelangi yang berkilau karena terpaan matahari di atap-atap kristal air mata rumah-rumah penduduk mulai berkurang kadar warnanya. Meredup pelan-pelan seperti detak jarum yang berputar terbalik, makin lama warna itu makin samar dan begitu tipisnya.

Desa itu benar-benar menjadi desa yang sedih sesedih-sedihnya. Air mata menjadi barang langka, tetapi kesedihan menjadi begitu berakar. Hingga satu hari koperasi pengelola balok kristal air mata itu menyatakan bangkrut. Mereka tak sanggup lagi berproduksi karena suplai air mata hampir tidak ada lagi. Air mata yang tersedia begitu buruk kualitasnya karena hanya air mata perempuan sehingga tidak mampu lagi membuat kristal yang solid tanpa air mata lelaki. Ketika menyadari bahwa balok kristal air mata tidak ada lagi, mulailah mereka panik. Kepala desa membunyikan kentongan tanda para lelaki harus berkumpul, “Ini sebuah kesalahan, lelaki boleh menangis karena kita butuh air mata untuk kelangsungan hidup kita, mari kita menangis lagi.” Dia pun mulai mengejap-kejapkan matanya untuk memanggil roh air mata agar kembali hadir, tanpa sadar semua lelaki yang hadir mengikutinya. Tetapi roh air mata mereka memang sudah tidak ada lagi. Mereka pun mulai panik. Semakin keras mereka berusaha, semakin air mata tidak lagi keluar. Bahkan karena terlalu keras hanya darah yang keluar dari mata mereka. Tentu saja itu bukan air mata karena berwarna merah. Air mata seperti suara Tuhan, begitu bening dan sejuk.

“Roh air mata itu harus kita cari, kalau perlu ke ujung dunia pun harus kita buru,” begitu akhirnya keputusan kepala desa itu dalam keputuasaannya. Begitulah, sejak hari itu banyak lelaki keluar dari desaku. Mereka memburu air mata ke seluruh pelosok negeri. Ada yang berhasil ada pula yang tidak. Ada yang pulang dengan membawa bergalon-galon air mata, ada yang mengirimkan lewat kilat khusus, tetapi ada juga yang pulang hampa sia-sia. Lelaki perantau pencetus gagasan penghapusan air mata bagi lelaki itu menghilang entah kemana. Konon, ada yang pernah melihat dia secara diam-diam menghilang ke atas gunung dalam penyesalannya karena telah membuat desanya menjadi berantakan. Tetapi ada juga rumor yang menyebutkan bahwa saat dia menyebarkan propaganda anti air mata itu sebenarnya dia telah disuruh oleh setan yang tidak pernah ingin melihat manusia bahagia. Entah benar atau tidak, yang jelas sekarang ini sangat jarang ditemui lelaki di desaku. Kebanyakan mereka telah menjadi pemburu air mata. Mereka akan sangat mudah ditemui di kota-kota besar maupun kecil. Dengan berbagai cara mereka akan membuat orang-orang menangis, yang paling sering dilakukan adalah menjadi pendongeng cerita-cerita sedih dimana ketika para penonton beramai-ramai menangis maka si pendongeng akan buru-buru mengambilnya dengan sponsnya dan dimasukkan kedalam botol air mineralnya.

Demikianlah, desaku yang tadinya begitu damai dan indah kini menjadi sunyi. Kesunyian yang begitu menyayat. Kesunyian yang melahirkan pekat. Seloka-seloka yang disenandungkan perempuan yang tinggal hanyalah senandung kesepian yang dibungkus rapat dengan kerinduan, karena para lelaki mereka menjadi pemburu air mata dan tidak tahu kapan mereka pulang. Benar-benar desa yang tidak bahagia. Mereka sering sekali merindukan waktu lalu, dimana air mata begitu mudah didapat, sangat bening seperti hati. Mereka begitu mendendam kepada lelaki pencetus ide penghapusan air mata. Dendam yang melahirkan bara di dada. Bara yang melahirkan air mata api.

Air mata menjadi makin langka. Air mata pada akhirnya melahirkan hanya lolongan. Air mata pada akhirnya menjadi absurd maknanya dan para pemburu air mata tak pernah lelah memburunya karena mereka benar-benar tahu bahwa hidup mereka akan kembali penuh dengan air mata. Ya, karena dari air mata akan melahirkan tawa.

 

Sumber : WWW.KOMPAS.COM

Leave a comment »

Sinopsis dan Unsur intrinsik novel layar terkembang

 

Sinopsis Layar Terkembang

Tuti adalah putri sulung Raden Wiriatmadja. Dia dikenal sebagai seorang gadis yang pendiam teguh dan aktif dalam berbagai kegiatan organisasi wanita. Watak Tuti yang selalu serius dan cenderung pendiam sangat berbeda dengan adiknya Maria. Ia seorang gadis yang lincah dan periang.

Suatu hari, keduanya pergi ke pasar ikan. Ketika sedang asyik melihat-lihat akuarium, mereka bertemu dengan seorang pemuda. Pertemuan itu berlanjut dengan perkenalan. Pemuda itu bernama Yusuf, seorang Mahasiswa Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Ayahnya adalah Demang Munaf, tinggap di Martapura, Sumatra Selatan.

Perkenalan yang tiba-tiba itu menjadi semakin akrab dengan diantarnya Tuti dan Maria pulang. Bagi yusuf, perteman itu ternyata berkesan cukup mendalam. Ia selal teringat kepada kedua gadis itu, dan terutama Maria. Kepada gadis lincah inilah perhatian Yusuf lebih banyak tertumpah. Menurutnya wajah Maria yang cerah dan berseri-seri serta bibirnya yang selalu tersenyum itu, memancarkan semangat hidup yang dinamis.

Esok harinya, ketika Yusuf pergi ke sekolah, tanpa disangka-sangka ia bertemu lagi dengan Tuti dan Maria di depan Hotel Des Indes. Yusuf pun kemudian dengan senang hati menemani keduanya berjalan-jalan. Cukup hangat mereka bercakap-cakap mengenai berbagai hal.

Sejak itu, pertemuan antara Yusuf dan Maria berlangsung lebih kerap. Sementara itu Tuti dan ayahnya melihat hubungan kedua remaja itu tampak sudah bukan lagi hubungan persahabatan biasa.

Tuti sendiri terus disibuki oleh berbagai kegiatannya. Dalam kongres Putri Sedar yang berlangsung di Jakarta, ia sempat berpidato yang isinya membicarakan emansipasi wanita. Suatu petunjuk yang memperlihatkan cita-cita Tuti untuk memajukan kaumnya.

Pada masa liburan, Yusuf pulang ke rumah orang tuanya di Martapura. Sesungguhnya ia bermaksud menghabiskan masa liburannya bersama keindahan tanah leluhurnya, namun ternyata ia tak dapat menghilangkan rasa rindunya kepada Maria. Dalam keadaan demikian, datang pula kartu pos dari Maria yang justru membuatnya makin diserbu rindu. Berikutnya, surat Maria datang lagi. Kali ini mengabarkan perihal perjalannya bersama Rukamah, saudara sepupunya yang tinggal di Bandung. Setelah membaca surat itu, Yusuf memutuskan untuk kembali ke Jakarta, kemudian menyusul sang kekasih ke Bandung. Setelah mendapat restu ibunya, pemuda itu pun segera meninggalkan Martapura.

Kedatangan Yusuf tentu saja disambut hangat oleh Maria dan Tuti. Kedua sejoli itu pun melepas rindu masing-masing dengan berjalan-jalan di sekitar air terjun di Dago. Dalam kesempatan itulah, Yusuf menyatakan cintanya kepada Maria.

Sementara hari-hari Maria penuh dengan kehangatan bersama Yusuf, Tuti sendiri lebih banyak menghabiskan waktunya dengan membaca buku. Sesungguhpun demikian pikiran Tuti tidak urung diganggu oleh keinginannya untuk merasakan kemesraan cinta. Ingat pula ia pada teman sejawatnya, Supomo. Lelaki itu pernah mengirimkan surat cintanya kepada Tuti.

Ketika Maria mendadak terkena demam malaria, Tuti menjaganya dengan sabar. Saat itulah tiba adik Supomo yang ternyata disuruh Supomo untuk meminta jawaban Tuti perihal keinginandsnya untuk menjalin cinta dengannya. Sesungguhpun gadis itu sebenarnya sedang merindukan cinta kasih seorang, Supomo dipandangnya sebagai bukan lelaki idamannya. Maka segera ia menulis surat penolakannya.

Sementara itu, keadaan Maria makin bertambah parah. Kemudian diputuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Ternyata menurut keterangan dokter, Maria mengidap penyakit TBC. Dokter yang merawatnya menyarankan agar Maria dibawa ke rumah sakit TBC di Pacet, Sindanglaya Jawa Barat.
Perawatan terhadap Maria sudah berjalan sebulan lebih lamanya. Namun keadaannya tidak juga mengalami perubahan. Lebih daripada itu, Maria mulai merasakan kondisi kesehatan yang makin lemah. Tampaknya ia sudah pasrah menerima kenyataan.

Pada suatu kesempatan, disaat Tuti dan Yusuf berlibur di rumah Ratna dan Saleh di Sindanglaya, disitulah mata Tuti mulai terbuka dalam memandang kehidupan di pedesaan. Kehidupan suami istri yang melewati hari-harinya dengan bercocok tanam itu, ternyata juga mampu membimbing masyarakat sekitarnya menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Keadaan tersebut benar-benar telah menggugah alam pikiran Tuti. Ia menyadari bahwa kehidupan mulia, mengabdi kepada masyarakat tidak hanya dapat dilakukan di kota atau dalam kegiatan-kegiatan organisasi, sebagaimana yang selama ini ia lakukan, tetapi juga di desa atau di masyarakat mana pun, pengabdian itu dapat dilakukan.

Sejalan dengan keadaan hubungan Yusuf dan Tuti yang belakangan ini tampak makin akrab, kondisi kesehatan Maria sendiri justru kian mengkhawatirkan. Dokter yang merawatnya pun rupanya sudah tak dapat berbuat lebih banyak lagi. Kemudian setelah Maria sempat berpesan kepada Tuti dan Yusuf agar keduanya tetap bersatu dan menjalin hubungan rumah tangga, Maria mengjhembuskan napasnya yang terakhir. “Alangkah bahagianya saya di akhirat nanti, kalau saya tahu, bahwa kakandaku berdua hidup rukun dan berkasih-kasihan seperti kelihatan kepada saya dalam beberapa hari ini. Inilah permintaan saya yang penghabisan dan saya, saya tidak rela selama-lamanya kalau kakandaku masing-masing mencari peruntungan pada orang lain”. Demikianlah pesan terakhir almarhum Maria. Lalu sesuai dengan pesan tersebut Yusuf dan Tuti akhirnya tidak dapat berbuat lain, kecuali melangsungkan perkawinan karena cinta keduanya memang sudah tumbuh bersemi.

2. Unsur Instrinsik Novel
1. Tema : Perjuangan Wanita Indonesia
2. Latar / Setting ;
A. Gedung Akuarium di Pasar Ikan,
B. Rumah Wiriaatmaja,
C. Mertapura di Kalimantan Selatan,
D. Rumah Sakit di Pacet,
E. Rumah Partadiharja,
F. Gedung Permufakatan.
3. Alur : Maju
4. Sudut Pandang : Orang ketiga yang ditandai dengan menggunakan nama dalam menyebutkan tokoh-tokohnya.
5. Penokohan
a. Maria : Anak Raden Wiriaatmaja, seseorang yang mudah kagum,mudah memuji dan memuja,lincah dan periang.
b. Tuti : Anak Raden Wiriaatmaja, seseorang yang aktif dalam berbagai kegiatan wanita,selalu serius,jarang memuji,pandai dan cakap dalam mengerjakan sesuatu.
c. Yusuf : Putra Demang Munaf di Mrtapura, seseorang mahasiswa kedokteran yang pandai dan baik hati.
d. Wiriaatmaja : Ayah dari Maria dan Tuti, seorang yang memegang teguh agama,baik hati dan penyayang.
e. Partadiharja : Adik Ipar Wiriaatmaja, seseorang yang baik hati, teguh pendirian dan peduli antar sesama.
f. Saleh : Adik Partadiharja, seorang lulusan sarjana yang sangat peduli akan alam sehingga ia mengabdikan diri sebagai seorang petani.
g. Rukamah : Sepupu Tuti dan Maria, seseorang yang baik hati dan suka bercanda.
h. Ratna : Istri saleh, Seorang petani yang pandai dan baik hati.
i. Juru Rawat : Seorang yang baik hati.

7. Amanat : Perempuan harus memiliki pengetahuan yang luas sehingga dapat memberikan pengaruh yang sangat besar didalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan demikian perempuan dapat lebih dihargai kedudukannya di masyarakat.

Comments (2) »

Tarsisius II

Sekolah Tarsisius II berdiri sejak 1989.Sekolah ini terletak di jalan Batu sari raya no .12 rawa belong,,sekolah ini memiliki jenjang pendidikan dari TK – SMA. Baca entri selengkapnya »

Leave a comment »

Tuhan Selalu Punya Cara

Takkan kuragukan TUHAN..

JanjiMU yang menghidupkanku..

Hanya padaMU TUHAN..

Ku berseru dan mataku tertuju padaMU…

Reff:

KAU s’lalu punya cara untuk menolongku…

KAU s’lalu punya jalan keajaibanMU..

Kau dahsyat dalam segala perbuatanMU..

Dan kutenang di dalam caraMU..

Worship:

Hanya didalam caraMU…aku tenang…

Dengan cara yang tak terselami…Kau ajaib…

Engkau Dahsyat…didalam caraMU..

Sumber : Album “TUHAN SELALU Punya Cara”

Leave a comment »

Tentang Ilmu Teknologi(IT)

Teknologi Informasi dilihat dari kata penyusunnya adalah teknologi dan informasi. Secara mudahnya teknologi informasi adalah hasil rekayasa manusia terhadap proses penyampaian informasi dari bagian pengirim ke penerima sehingga pengiriman informasi tersebut akan:

* lebih cepat
* lebih luas sebarannya, dan
* lebih lama penyimpanannya.

Pada awal sejarah, manusia bertukar informasi melalui bahasa. Maka bahasa adalah teknologi. Bahasa memungkinkan seseorang memahami informasi yang disampaikan oleh orang lain. Tetapi bahasa yang disampaikan dari mulut ke mulut hanya bertahan sebentar saja, yaitu hanya pada saat si pengirim menyampaikan informasi melalui ucapannya itu saja. Setelah ucapan itu selesai, maka informasi yang berada di tangan si penerima itu akan dilupakan dan tidak bisa disimpan lama. Selain itu jangkauan suara juga terbatas. Untuk jarak tertentu, meskipun masih terdengar, informasi yang disampaikan lewat bahasa suara akan terdegradasi bahkan hilang sama sekali.

Setelah itu teknologi penyampaian informasi berkembang melalui gambar. Dengan gambar jangkauan informasi bisa lebih jauh. Gambar ini bisa dibawa-bawa dan disampaikan kepada orang lain. Selain itu informasi yang ada akan bertahan lebih lama. Beberapa gambar peninggalan zaman purba masih ada sampai sekarang sehingga manusia sekarang dapat (mencoba) memahami informasi yang ingin disampaikan pembuatnya.

Ditemukannya alfabet dan angka arabik memudahkan cara penyampaian informasi yang lebih efisien dari cara yang sebelumnya. Suatu gambar yang mewakili suatu peristiwa dibuat dengan kombinasi alfabet, atau dengan penulisan angka, seperti MCMXLIII diganti dengan 1943. Teknologi dengan alfabet ini memudahkan dalam penulisan informasi itu.

Kemudian, teknologi percetakan memungkinkan pengiriman informasi lebih cepat lagi. Teknologi elektronik seperti radio, tv, komputer mengakibatkan informasi menjadi lebih cepat tersebar di area yang lebih luas dan lebih lama tersimpan.

Sumber : Wikipedia

Leave a comment »

Kemenangan

Kemenangan Orang Percaya
Konsep Perjanjian Lama mengartikan Paskah sebagai Hari Pembebasan mereka di dalam perbudakan, dalam Perjanjian Baru juga demikian, Paskah merupakan pembebasan orang-orang percaya dari “perbudakan” dosa dan maut, semestinya manusia itu mati karena dosa; namun kemenagan Tuhan Yesus di atas kayau salib telah membebaskan kita dari kematian itu. Yesus telah menang atas dosa-dosa umat manusia secara universal, artinya setiap orang yang percvaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Peringatan Paskah juga merupakan suatu pesta kemenangan besar Yesus Kristus, sekaligus Kemenangan besar bagi orang-orang percaya. Yesus bukan hanya menang atas kematiaan-Nya saja di dalam Kubur, tetapi sekaligus menang atas dosa manusia. Inilah salah satu dasar Iman Kepercayaan orang Kristen yang tidak boleh dilupakan. Makanya ketika Dokter Lukas mengatakan dalam bagian ini bahwa “;Ia Tidak Ada di sini, Ia Telah Bangkit” (Lukas 24:6), haruslah diyakini bahwa Yesus Kristus benar-benar telah bangkit dari kubur, di gua itu sudah kosong, yang ada hanay kain kafan bekas pembalut mayat Tuhan Yesus. Tidak ada sejengkal-pun alasan yang boleh membatalkan pernyataan ini.

Di dalam Teologia Apologetika, Yesus diyakini sebagai Anak Allah, kokoh atau hancurnya konsep ini sangat tergantung dan erat hubungannya dengan Kebangkitan Yesus Kristus. Kalau kita perhatikan 1 Korintus 15 :7 di sini rasul Paulus mengatakan “Jika Kristus tidak dibangkitkan maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu” Karena itu, Kebangkitan patutlah dianggap sebuah bukti tentang Pribadi Kristus yang Ilahi, Kemesiasan-Nya dan Kuasa-Nya menyelamatkan manusia dari dosa. Tanpa Kebangktan, itu berarti Yesus yang kita sembah adalah Yesus yang tidak bedanya dengan para tokoh-tokoh agama. Kebangkitan-Nya sekaligus membuktikan Ia Hidup.

“Kemenangan Orang Percaya” demikianlah judul tulisan ini. Tentu ada orang yang bertanya, apa sih bukti kemenangan itu, bukankah Yeus disalibkan di bukit Golgota? Ada orang berpendapat bahwa kubur Yesus yang kosong belum tentu merupakan indikasi Yesus bangkit, barangkali Yesus melarikan diri sebab Dia hanya semaput (pinsan), sekarang sudah siuman lalau pergi melarikan diri?. Atau, karena kepiawaian Yesus, maka Ia telah mengelabui orang-orang yang telah menyalibkan Dia, sesungguhnya yang disalibkan itu orang lain? Inilah pertanyaan-pertanyaan yang seringkali muncul dalam benak orang-orang yang tidak percaya akan Kebangkitan bukan? Hal ini bisa kita maklumi, sebab kejadian Kebangkitan Yesus Kristus telah berlalu dua ribu tahun lebih, dan mereka yang tidak senang akan hal ini pasti punya banyak alasan dan cerita untuk menghancurkan Kebanaran ini. Jangankan orang-orang modern sekarang ini banyak yang tidak percaya, orang-orang yang hidup pada jaman Yesus-pun ada yang tidak percaya akan Kebangkitan ini. Salah satunya justru orang yang paling dekat dengan Yesus yakni murid-Nya yang bernama Tomas. Demikian kata Tomas, “Sebelum aku sendiri memasukkan jari tangan ke dalam telapak tangan bekas paku Tuhan Yesus dan memasukkan tanganku ke dalam perut bekas tusukan tombak, aku tidak percaya Yesus sudah bangkit” (lihat Yohanes 20:25) Sehubungan dengan Kemenangan orang Percaya ini, saya mencatat tiga hal yang akan kita soroti lebih mendetail.

I. Kemenangan Orang Percaya, buktinya Batu Besar Penutup Kubur Terguling

Di dalam Injil Matius 28 :2 tercatat ” Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya” Sedangkan Markus mencatat, setelah lewat Sabat, Maria Magdalena dan Maria ibu Yakobus serta Salome membeli rempah-rempah untuk pergi ke kubur dan meminyaki mayat Yesus. Di tengah perjalanan, mereka bertanya siapa yang akan menggulingkan batu itu bagi kita? Mereka sadar, bahwa ada yang kurang dari antara mereka yakni tidak membawa teman-teman pria. Sebab sesungguhnya batu penutup pintu kubur itu cukup berat untuk di geser. Namun apa boleh buat, saat ini sudah hampir tiba di Kubur. Satu hal yang sangat mengagetkan mereka semua adalah, ternyata batu besar dan berat itu sudah terguling dan kubur dalam keadaan terbuka. Ini berarti ada sesuatu sedang rterjadi di dalam Kubur itu.

Kebangkitan Tuhan Yesus merupakan peristiwa yang penting dan dahsyat. Begitu kuat-Nya kuasa Kebangkitan itu telah mendorong dan menggeser batu penutup kubur sekaligus menghancurkan penghalang itu dan membuat terobosan baru. Bagaimana dengan kita semua? Sesungguhnya apa yang menjadi penghalang kita dalam hidup ini supaya bisa menaruh kepercayaan seratus persen kepada Tuhan? Apa yang senantiasa menjadi penghalang, membnuat kita tidak setia kepada Tuhan. Sanggupkah kita menggulingkan batu penghalang hidup kita ini?

Pernah suatu hari dalam percakapan dengan salah seorang jemaat gereja, saya begitu kaget sebab saya menemukan ada jemaat yang sudah puluihan tahun berbakti di gereja tetapi dia belum dibaptis. Danm tatkala kita coba bertanya alasannya, terlalu banyak yang beralasa bahwa ” orang tua kami masih hidup”. Kita lihat bahwa jawabannya itu tidak sejalan dengan pertanyaannya bukan? Namun setelah saya coba selidiki latar belakangnya, ternyata memang orang tuanya belum percaya, sehingga apabila orang tuanya masih hidup, pastilah mereka marah sekali kalau anak-anaknya percaya Yesus, sebab apabila mereka sebagai orang tua meninggal, tidak ada yang menyembayangi. Tetapi kalau dipikirkan kembali, bukankah dia sebagai anak juga sangat “kejam”, rela kalau orang tuanya meninggal tanpa Tuhan Yesus. Apalagi kalau orang tuanmya mengetahui akan Kebenaran ini, tentu mereka akan “sakit hati” pada anak-anaknya. Bukankah bagi jemaat tersebut. Orang tunya sebagai “batu besar penghalang” , yang harus segera digeser. Yang harus segera diubah konsepnya, sehingga yang tadinya penghalang dengan kekuatan Tuhan telah menjadi pendukung.

II. Kemenangan Orang Percaya, buktinya: Yesus tidak ada di dalam Kubur lagi

Lukas mencatat dalam bacaan tadi, “Pagi-pagi benar mereka, dalam hal ini para wanita itu yakni Maria Magdalena, Yohana, Maria ibu Yakobus dan Salome dan wanita-wanita lainnya berangkat menuju ke kubur. Kenyataan yang mereka hadapi adalah, Batu Penutup Kubur itu telah tergeser dari tempatnya; dan satu hal yang paling penting lagi mayat Yesus sudah tidak ada di dalam. Bagi murid-murid Yesus yang saat itu penuh ketakutan, barangkali mendapat sedikit penjelasannya saja, mereka sudah bisa mengerti dan menerima dan percaya peristiwa Kebangkitan itu. Sebab memang Yesus pernah menceritakan kepada mereka kronologisnya.

Namun fakta yang terjadi di lapangan beda, Tomas yang seringkali disebut Didimus itu masih ragu akan hal ini. Seorang ahli Teologia dari Amerika John F Walvoord menjelaskan perdebatan serta keraguan dan kecurigaan ini sebagai berikut :

Ada orang yang mengatakan bahwa murid-murid Yesus itu sesungguhnya telah datang ke kubur yang salah, sehingga wajar kalau tidak menemukan Yesus di sana. Apakah ini benar, bagaimana penjelasannya? “Kira-kira tigapuluhan tahun yang lalu, saya masih ingat cerita dari nenek saya mengenai kuburan orang-tuanya. Beliau mengatakan bahwa, kubur orang-tuanya hampir tidak ditemukan, karena tanda berupa patokannya hilang. Jadi ada kemungkinan pergi ke kubur yang salah. Di jaman sekarang ini, kuburan sudah di tata rapi, bahkan ada alamat dan nama bloknya. Misalnya di Jawa-Timur saja kuburan di Gunung Gansir atau Sentong Lawang sudah ada namanya, Blok A, Villa Masa Depan Sejahtera” atau entah nama apa lagi, sehingga orang-orang lebih gampang menemukannya. Namun, apakah benar murid-murid itu salah? Jawabannya tidak, sebab malaikat-malaikat ada di kubur itu, tidak mungkin malaikat berada pada kubur yang keliru bukan. Selain itu di sana juga ada para serdadu, jadi tidak mungkin mereka menjaga kubur orang lain, apa kepentingannya dengan kubur orang lain, sudah pasti itu kubur Yesus, walaupun pada waktu itu tidak diberi nomor Blok dan nama Villa.

Sementara itu ada lagi yang mengatakan bahwa para serdadu itu sendirilah yang telah mengarang cerita untuk meyakinkan orang banyak bahwa mayat Yesus benar-benar telah dicuri oleh seseorang tatkala mereka sedang tidur. Apabila kasus ini benar-benar terjadi, maka para serdadu itu pasti akan dihukum mati; sebab mereka yang diberi tanggung-jawab untuk menjaga tetapi kenyataannya mereka tidur. Sebaliknya menurut catatan Injil Matius, mereka itu disuap dengan uang untuk menyebarkan cerita bohong itu. Hal ini jelas merupakan suatu usaha untuk menutupi fakta kebenaran dengan mengandalkan uang. Tentunya para serdadu itu akan dijamain keselamatannya ats hukuman yang berlaku pada waktu itu.

Kurangnya bukti untuk mengadakan klaim bagi orang-orang yang berusaha menggugat kebangkitan-Nya membuat kita menerima catatan tentang Kebangkitan itu. Jikalau Kebangkitan itu tidak ajaib dan begitu penting sehingga menjadi dasar yang kokoh bagi seluruh iman Kristen, maka tentulah Kebangkitanm itu tidak pernah dipersoalkan. Sekali lagi murid-murid Yesus tidak mungkin mencuri mayat Guru-nya; dan kalau musuh-musuh Tuhan 269243g telah mengambil mayat-Nya, tentulah mereka akan mengeluarkannya kembali tatkala berita tentang Kebangkitan mulai tersebar. Kubur kosong merupakan saksi bisu yang yang tidak dapat disangkal tentang kenyataan Yesus Bangkit dari kubur-Nya.

Kalau kita semua megerti penjelasan dan pembelaan yang sederhana ini tentang Kebenaran akan Kebangkitan Yesus, mengapa kita masih belum mau percaya? Yesus bangkit menciptakan harapan baru bagi para pengikutnya, tadinya suam-suam kukuh sekarang berkobar lagi. Tadinya sudah hampir putus asa, sekarang tidak lagi.

III. Kemenangan Orang Percaya, buktinya: Yesus Bangkit dan Menampakkan Diri-Nya

Seperti biasanya, diantara murid-murid Yesus yang paling aktif, agresif dan penuh inisiatif adalah Simon Petrus. Kadang kala Yesus meras jengkel terhadap tinmgkah lakunya ini. Pada saat Yesus mau kembali Ke Yerusalem, Petrus yang menarik tangan Yesus; waktu itu Yesus memarahi dia. Sewaktu perajurit itu menangkap Yesus di Taman Getsemani, Petrus mengeluarkan pedang dan dipotong sehelai telinga perajurit itu. Nah, tatklala Petrus mendengar Yesus sudah bangkit (lihat ay. 12), ia langsung bangun dan pergi ke kubur. Kalau kemarin sewaktu di Taman Getsemani tatkala Yesus berdoa Petrus dan kawan-kawan selalau tertidur, seakan-akan semangatnya sudah pudar, tetapi pagi ini nampaknya ada perubahan. Benar, Petrus tidak menemukan mayat Yesus, ia hanya melihat kain Kafan saja. Bagi orang banyak pada waktu itu, peristiwa Kebangkitan ini merupaka cerita “omong kosong”( ay.11), tetapi kesaksian para murid ini tentunya akan membuktikan bahwa Kebangkitan Yesus bukan Omong Kosong.

Ditambah lagi Yesus menampakkan diri buat orang banyak. Ada tujuh belas kali Tuhan Yesus menampakkan diri sesudah kebangkitannya sampai setelah IA naik ke surga.

Penampakan yang pertama : Ditujukan kepada Maria Magdalena, mereka piker dia Tukang Kebun (Lihat Yohanes 20:11-17 dan Markus 16:9-11).

Penampakan yang kedua: Ditujukan kepada para wanita lain yang kembali ke kubur ( Matius 28:9-10)

Penampakan yang ke tiga: Yesus memperlihatkan Diri-Nya kepada Petrus pada suatu sore (Lihat Lukas 24:23 dan 1 Korintus 15:5)

Penampakan yang ke empat: Ditujukan kepada mereka yang berjalan menuju ke Emaus (Markus 16:12-13, Lukas 24:13-35)

Penampakan yang ke lima: Ditujukan kepada ke sepuluh murid Tuhan Yesus, waktu itu Tomas tidak ada di tempat, sehingga sebelum Tomas melihat sendiri ia tidak percaya. (Lukas 24:36-43 dan Yohanes 20: 19-23)

Pernampakan ke enam: Kembali ditujukan kepada murid-murid-Nya, dan saat itu Tomas sudah hadir (Yohanes 20:26-29)

Penampakan ke tujuh: Penampakan ini ditujukan kepada tujuh orang murid di Laut Galilea, waktu itu terjadilah penangkapan ikan yang penuh mujijat (Lihat Yohanes 21:1-23).

Penampakan ke delapan : Yesus menampakan diri secara umum, kepada lima ratus orang dan diikuti oleh Paulus (1 korintus 15:6)

Penampakan ke sembilan : Ditujukan kepada Yakobus saudara Yesus sendiri (1 korintus 15:7). Ada orang mengatakan bahwa Yakobus itu tidak percaya sebelum Kebangkitan Tuhan Yesus (Yohanes 7:3-5), tetapi setelah Yesus Bangkit, ia terhitung sebagai orang percaya.

Penampakan ke sepuluh : Kembali Yesus memperlihatkan Diri-Nya kepada ke sebelas murid-murid-Nya di bukit Galilea, ada perintah yang Agung yang sering disebut Amanat Agung untuk memberitakan Injil disampaikan kepada murid-murid pada saat ini (Matius 28:16-28)

Penampakan ke sebelas: Tatkala Yesus naik ke surga. Dari Bukit Zaitun IA Menampakkan Diri-Nya (Lukas 24:44-53 dan Kisah Para Rasul 1:3-9). Penampakan ini adalah penampakan yang terakhir sebelum Yesus naik ke Surga.

Penampakan ke dua belas: Yesus menampakkan Diri-Nya kepada Stefanus yang mati Martir (lihat Kisah Para Rasul 7:55-56). Selanmjutnya penampakan yang berbeda sifatnya untuk menguatkan fakta Kebangkitan Yesus.

Penampakan ke tiga belas: Penampakan ini ditujukan kepada rasul Paulus, waktu itu masih bernama Saulus. Di perjalanan ke Damsyik, sesungguhnya Saulus mempunyai rencana jahat terhadap orang-orang percaya, namun Yesus memperlihatkan Diri-Nya kepada Saulus, ia tersungkur dan bertobat/ (Kisah Para Rasul 9:3-6;22:6-11;26:13-18).

Penampakan ke empat belas: Sekali lagi penampakan itu ditujukan kembali kepada rasul Paulus ketika di Arabia (Kisah Para Rasul 20″24; 26:17).

Penampakan ke lima belas: Ditujukan lagi kepada Paulus tatkala di Bait Allah, Paulus diingatkan oleh Yesus bahwa penganiayaan terhadap orang-orang percaya sudah segera tiba (Kisah Para Rasul 22″17-21).

Penampakan ke enam belas: Kepada Rasul Paulus, waktu itu ia berada di dalam penjara di Kaisaria, dikatakan bahwa Tuhan datang berdiri disisinya dan memberitahu Paulus bahwa ia harus menyaksikan Injil di kota Roma ( Kisah Para Rasul 23:11)

Penampakan ke tujuh belas: Waktu itu ditujukan kepada rasul Yohanes, waktu itu ia berada di pulau Patmos ( Wahyu 1:12-20).

Inilah fakta, bahwa “Kubur Yesus Yang Kosong, Bukan Omong Kosong”. Berdasarkan Kebenaran inilah, maka kita juga berani mempertarukan seluruih hidup kita kepada Tuhan. Sebagai orang percaya kita menyembah kepada Allah yang hidup, bukan yang mati tetap di Kubur. Masih ragukah anda akan kebenaran ini? Mari, tambahkan dam bangkitkan kembali semangat yang sudah letih dan lelah, kobarkan semangat Kebangkitan ini.

Apa yang bisa kita pelajari? Kebangkitan Yesus membuktikan bahwa Ia hidup, dan kita sebagai Umat-Nya bersandar sepenuhnya kepada-Nya yang Hidup pasti tidak sia-sia. Ini bukan “Omong Kosong”, Yesus yang telah mati di kayu salib demi kita, maka kita harus hidup bagi Dia yang sudah bangkit. Ini komitmen penting dalam seluruih aspek hidup kita, dan ingat komitmen kita seharusnya bukan komitmen yang omong kosong. Banyak orang yang senantiasa hidup dengan Komitmen yang omong kosong, padahal ngakunya itu merupakan prinsip hidupnya. Prinsip hidup yang omong kosong adalah Hari ini kita katakan “tidak” tetapi keesokan harinya terlalu gampang berubah menjadi “ya”. Komitmen yang bukan omong Kosong yakni, hari ini kita katakan “ya” besok dan selama-lamanya tetap katakan “ya”. Kiranya Tuhan memberikan pertolongan kepada kita untuk senantiasa hidup dalam Komitmen yang benar, baik dalam pelayanan, bertutur kata, memegang prinsip dan sebagainya. Bukan Omong Kosong, Semoga!

Leave a comment »

Besar Dan Perkasa

Besar dan perkasa Allah kita )
besar dan dahsyat Dia ) 2x
Angkatlah panjimu dan suaramu
puji Sang Raja
Besar dan perkasa Allah kita
besar dan dahsyat Dia

Kujatuh cinta padaNya )
tambah dan dalam dan ) 2x
tambah dan dalam lagi )

Yesus indahlah, indahlah
semakin indah, ooh
cintanya antara Allah dan aku
Kujatuh cinta padaNya
tambah dan dalam dan
tambah dan dalam lagi

Hanya Yesus (3x)
Pujaanku
Hanya Yesus (3x)
Penolongku
Hanya Yesus (3x)
Dia Rajaku
Hanya Yesus, oh hanya Yesus
kekasihku

Leave a comment »